Jalan Raya Pos, Jalan Daendels
Judul buku : Jalan Raya Pos, Jalan Daendels 
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit :Lentera Dipantara
Cetakan : 5, April 2007
Tebal : 145 halaman
satu buku lagi yang menambah koleksi pram saya. awalnya saya pikir ini novel, dengan settingan waktu ketika pembangunan jalan raya pos itu. ternyata saya salah. alur penceritaan buku ini adalah, dengan menceritakan satu persatu kota yang dilalui jalan raya pos. dimulai di anyer, diakhiri di panarukan. entah tokoh aku yang ditampilkan dalam buku ini adalah pram sendiri atau bukan. tapi si tokoh aku itu menceritakan pengalaman dia ketika datang ke kota-kota yang dilalui oleh jalan raya pos, lalu ditambah dengan menceritakan apa yang terjadi dulu ketika pembangunan.
buku ini cukup tipis, jadi dibaca beberapa jam saja langsung selesai. tiap kota yang dibahas dalam buku ini juga tidak sama kedalaman pembahasannya. ada yang sepintas lalu, ada yang menceritakan sejarah berdirinya suatu kota, ada juga yang menceritakan perlawanan penguasa suatu daerah kepada daendels atas keinginan daendels itu yang berlebihan.
setelah membaca buku ini, saya jadi tau jalur mana saja yang dilalui oleh jalan raya pos ini. saya kira dulu, jalan raya pos adalah jalan di utara yang deket pantai jawa dari anyer sampai panarukan. ternyata saya salah. dan yang lebih saya kaget lagi, ternyata jalan daendels ini lewat cimahi dan bandung. lewat jalan yang hampir setiap hari saya lalui. ckckck..
saya juga jadi tau sejarah kota bandung. bagaimana titik nol kilometer itu terbentuk. setelah tau ini, saya jadi pengen makan bubur ayam “pr” lagi disana. tapi kali ini sambil bawa tongkat. tongkat itu saya tancapkan di nol kilometer itu sambil ngomong :
“Zorg,dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd”
(*togog)
andreas iswinarto said,
September 14, 2008 at 11:45 am
Silah simak, semoga bermanfaat
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/belajar-dari-sejarah-sebuah-jalan-200.html
Kompilasi Liputan Khusus Kompas (40 artikel berita-feature dan opini)
: Ekspedisi 200 Tahun Anjer-Panaroekan (Anyer-Panarukan)
Bacaan penting untuk refleksi 100 tahun kebangkitan nasional, 10 tahun reformasi
Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya, kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya. Kalau dia tak mengenal sejarahnya. Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya,”
-Minke, dalam Novel Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer-
dikutip oleh Redaksi Kompas untuk pengantar edisi khusus ini
salam hangat
andreas iswinarto